Belajar dari Dokter Lo Siauw Ging

Tak mudah mencari dokter seperti dokter Lo Siauw Ging (80th). Yang menurut dirinya termasuk dokter kuno, terkenal bukan karena keahliaanya mengobati orang sakit, sejak mulai praktek Ia tidak memasang tarif kepada pasien-pasiennya, semua itu demi sebuah keyakinan. Aktifitasnya yang masih tergolong padat untuk usianya yang senja, menangani rata-rata 60 sampai 100 pasien perhari dan ditambah dengan pasien di Rumah Sakit.

Pagi hari Ia praktek di Rumahnya, siang harinya melanjutkan praktik di Rumah Sakit, dan sore hari kembali ke rumah bukan untuk beristirahat tetapi melanjutkan praktik. Kegiatan itu ditekuninya setiap hari Senin sampai dengan Sabtu, istirahat pada hari Minggu dan telah dilakoni selama berpuluh-puluh tahun. Dan menurutnya uang bukan ukuran bagi seorang dokter untuk peduli pada kesehatan pasiennya dan uang juga bukan ukuran untuk menyelamatkan nyawa seseorang.

Perbincangannya ditelpon dengan petugas rumah sakit yang cukup menggelitik,
"Aku ngirim pasien atas nama Angelia ya.."
"Langsung diinfus nanti ya.."
"Sediakan infus 40 tetes permenit ya.."
"Wis pokoe tanpa kamar diterima dulu, pokoe itu urasan saya ya.."
"Pokoe diterima jangan ditolak ya.."
"Kalau ditolak nanti saya marah lho ya.."
"Angelina 10 tahun, kasih oksigen ya.."

"Kok kamu masih tanya-tanya biaya itu gimana..?" itulah pertanyaan atas pertanyaan dari Ibu Angelia yang diminta dokter Lo untuk segera membawa anaknya ke Rumah Sakit malah menanyakan biaya-biaya.

Tidak hanya konsultasinya saja yang gratis. Pasien tak mampu tidak perlu pusing memikirkan obat, karena dokter Lo yang akan membayarnya. Pasien-pasien yang mengambil obat di Apotik cukup tanda tangan saja, tagihannya dikumpulkan selama satu bulan dan ditagihkan pada dokter Lo.

Tagihan dibayar dari uang pribadi, pembayaran cuma-cuma dari sekitar 40% pasiennya dan uang dari sejumlah donatur yang disebutnya rekening dana sosial. Bahkan donaturnya yang paling besar juga sebagai temannya yang tidak pernah mau disebut namanya dalam daftar donasi, sudah sekitar 25 tahun secara rutin memeberikan donasinya. Subsidi silang yang dilakukannya selama ini tidak pernah mengalami kesulitan-kesulitan yang berarti dalam melunasi tagihan-tagihan pembayaran obat.

Dr Lo mengaku, dirinya melihat bahwa para pasien miskin tidak perlu lagi dibebani dengan biaya pengobatan karena perjuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga sudah berat. "Saya katakan tidak usah bayar, uangnya buat beli beras saja," tuturnya tentang pengalamannya bertemu dengan pasien miskin.

Pesan sekaligus prinsip dokter Lo datang dari ayahnya "kalau masih mau jadi dokter jangan cari duit, kalo mau cari duit jadilah pedagang", disampaikan setelah lulus SMA ketika ijin akan sekolah kedokteran.

Keteguhan menjalankan prinsipnya tak lepas dari peran sang Istri. Wanti-wanti pada calon istri ketika akan menikah "sebagai dokter jangan mengharapkan saya ini dokter yang kaya itu jangan, tapi untuk mati kelaparan itu ngga mungkin".

Tokoh panutan dokter Lo adalah dokter Oen Boen Ing, seorang dokter yang namanya diabadikan menjadi nama sebuah Rumah Sakit, dokter yang tak pernah membeda-bedakan latar belakang maupun kondisi ekonomi pasien.

Banyak dokter di Indonesia yang ingin mengabdikan dirinya pada profesi, tidak perlu takut kekurangan. "Kesulitan itu pasti ada, dalam prakteknya kita tidak perlu takut. Seorang dokter tidak pernah mati karena kalaparan. Pasti itu.."

Usianya yang senja, hanya tongkat yang membuatnya berbeda.
Dia masih menjalankan pesan sang ayah.
Tugas dokter hanya satu dan sangat mulia yakni menyelamatkan nyawa manusia.
"Selama saya masih bisa berfikir dengan bener, saya masih mau kerja."

Referensi
  • 360: Dokter Gratis, video.metrotvnews.com
  • Dr Lo: Kalau Mau Kaya Ya Jangan Jadi Dokter tapi Pedagang, regional.kompas.com
##oleh DHD##